Senin, 02 April 2018

"Be Creative, Think Creative”

Mengurangi Sampah Kemasan

Beberapa tahun telah berlangsung, selain mengajar suami  juga menitipkan dangangannya di kanting  sekolah, dengan menjual beberapa jenis jajanan untuk anak anak di tempat suami mengajar, salah satunya yaitu ice lemon,  untuk wadah minumannya suami menggunakan tempat minuman  wadah botol plastik sekali pakai, dengan bahan dasar plastik bening yang ada tutupnya.

Kemudian adanya peraturan sekolah yang melarang produk plastik  tersebut untuk di gunakan baik itu tempat minuman atau makan,  jadi setiap yang berjualan mesti menggunakan wadah plastik dengan standar PP5, karena salah satu program sekolah mengurangi sampah palstik. Pada akhirnya  banyak yang masih kebingungan, selain mengganti kemasan produk penganan mereka. 

Mengganti wadah produk berarti akan menambah biaya, yang artinya mau tidak mau akan berpengaruh dengan pemasukan hasil berjualan.  Suamipun berfikir keras agar  jualan penganan tetap berjalan , karena lemon ice adalah salah satu minuman favorit anak anak, yang artinya cukup laku, Apalagi jika cuaca panas. Suamipun melakukan observasi berkeliling  pasar, untuk mencari ide untuk menganti wadah pastik sekali pakai tersebut. Dan  setelah melakukan obsevasi dan perhitungan suami pun mendapatkan ide, yaitu menggunakan botol memasan daur ulang yang aman di pakai yang berstandar PP5.  Dan teman teman guru pun yang ikut berjualan di kantin pun  meniru jejak suami  untuk menggunakan wadah  berstandar PP5.


Ternyata setelah dikakulasi ide menggunakan  wadah minuman yang dapat di cuci ulang, tidaklah membuat rugi, karena tidak harus membeli wadah sekali pakai yang kalau habis mesti beli.  Dan wadah cuci ulang pun membuat sampah ayang ada di sekolah cukup berkurang. Membuat sekolah terlihat lebih bersih karean tidak ada kemasan plastic berceceran.


#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip

#thinkcreative

"Be Creative, Think Creative”




 MSG oh MSG

Memasak adalah kegiatan hal yang jarang saya lakukan ketika singgle. Maka saya fikir nanti mudah saja kalau nanti  menikah  kalau mau masak tinggal beli bumbu instan yang tersedia di supermarket dan saya tidak usah pusing menghapal  macam macam bahan dasar bumbu dapur. Praktis! itu fikiran saya. 

Dan jadihlah ketika menikah, pada saat berbelanja di supermarket. Sasaran utama saya adalah mencari tempat bumbu bumbu instan, Seperti bumbu nasi goreng, bumbu sayur soup dan lainya ,  tidak lupa pula beberapa tepung serba guna. Oh tidak!… saya hampir melupakkan penyedap rasa kemasan heheh. Yang memang semua tidak ada di dapur kami. Dan tibalah suami menghampiri saya setelah beliau berbelanja kebutuhan lain. Ups, setelah diskusi kecil, akhirnya semua barang yang  saya pilih  tadi pun  saya kembalikan pada tempatnya. Ternyata suami tidak mengkonsumsi bumbu bumbu instan dan MSG. Dan saya pun  berfikir, what… saya mesti mempelajari semua bumbe ribet itu. :( “Nanti belajar”, ucap suami seperti membaca fikiran saya. 

Dan  akhirnya diskusi kembali di mulai setelah sampai di rumah. 
“Kan dikit aja Bang, kita pake Msgnya, lagi pula adek pernah baca artikel dari dokter yang terkenal, MSG boleh kok di konsumsi, terus kalau gak pake MSG masakan adek gak enak?” protes saya.
“Iya dek, kalau masak tempe pake MSG, gulai MSG, Gorengan MSG, Sambal MSG, Lama lama jadi banyakkan, in sya allah dengan gula dan garam cukup dek,’’ ucap suami.

 Akhirnya saya pun belajar memasak mesti rasanya kadang cukup aneh, tapi alhmadulillah suami memaklumi. Dan suami pun menyarankan kalau saya belum bisa meninggalkan MSG untuk membuat kaldu alami dari ayam.  Atau menggunakan  penyedap rasa dari jamur tiram. Pilihan  yang kedua pun saya ambil karena lebih praktis ups. 


#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative



"Be Creative, Think Creative"

Obat, Why Not

Tantangan level 9, tentang Be creative. Membuat saya berfikir apakah yang akan saya observasi di sekitar saya. Dan pada akhirnya saya menemukan banyak hal menakjubkan dari passangan hidup saya. 

Beberapa minggu setelah pernikahan.
“Bang, nanti mampir ke apotek ya, adek mau beli multivitamin, dan lainnya?”  ucap saya kepada suami ketika kami sedang menuju pulang kerumah yang artinya akan melewati salah satu apotek. Akhirnya agenda  untuk ke apotek terlewatkan.  Dan setelah sampai di rumah suami mengajak saya untuk mengobrol. Yang intinya suami tidak  setuju kalau saya memngkonsumsi obat obatan meskipun hanya obat anti masuk angin sacsetan.
Sebelum menikah  saya memang  berkecimpung di dunia kerja yang berhubungan langsung dengan obat obatan membuat saya terbiasa mengkonsumsi obat. Misal sakit kepala, maag,  badan drop, atau masuk angin, Maka saya tinggal minum obat, selesai. Atau suntik  vit c dan minum multivitamin kalau badan sedang drop. Jadilah saya candu pada obat.

Selain  obat masuk angin, vitamin untuk kulit, saya pun menjadi bahasan suami, dan meminta saya untuk  tidak mengkonsumsi lagi.  Kata suami, coba di perbaiki pola hidup, untuk vitamin kulit bisa banyak konsumsi buah dan sayur, untuk maag coba jadwal makannya diperbaiki. Atau tentang hobby saya yang suka daging, suami bilang boleh makan daging tapi perbanyak sayur dan buah. Dan anjuran suami agar saya  satu buku koleksi suami “Rahasia Kesehatan Rosulullah” dan beberapa tentang buku food combining.
Kini  sudah tiga bulan pernikahan kami, obat pun sudah jarang saya sentuh. Kini  makanan pun kami  perbanyak buah dan sayur, jadi kalau belanja bulanan suami pun mengajak saya ke toserba  yang menjual sayuran organik dan buah buahan local. Kalaupun kondisi tubuh kurang sehat, maka kami lebih memilih  obat obat herbal, dan  mengkonsumsi madu.
Pada akhirnya saya merasa kondisi tubuh saya lebih baik.
Terimakasih untuk suami dengan tegas dan sabar untuk mendidik saya agar hidup lebih sehat.

#tantangan10hari
#level9
#kuliahbunsayiip
#thinkcreative



Minggu, 25 Maret 2018

BE CREATIVE

                  
                    "Be Creative"

kreatifitas, sebuah kata yang tidak asing di telinga kita. Umumnya  kata kreatifitas di hubungkan dengan perkembangan anak- anak kita. Banyak dari orang berharap anaknya menjadi anak yang kreatif. Segala bentuk bimbingan belajar dan berbagai macam kegiatan yang bersifat pendidikan formal maupun informal secara tidak langsung kita paksakan kepada anak kita. Contohnya ketika anak memasuki dunia sekoalah, kita sangat mengapresiasi anak anak dengan angka, jika anak mendapatkan nilai yang bagus di pelajaran eksak’ (Matematika, Kimia, Fisika), dengan hasil ujian yang besar kita sungguh bangga. Tapi jika anak tersebut mendapatkan nilai kecil di pelajaran eksak’ tapi nilai besar di dapat pada pelajaran, Bahasa, Seni, Agama, kita jarang mengapresiasi. Atau sikap sering membandingkan anak kita dengan  anak  orang lain, ”kakak, kok bisa nilai Matematika kakak kecil, ini karena selalu main, coba liat Ari, nilainnya Matematikanya besar , Dia les terus. Mulai besok Bunda daftarin kakak untuk iku les Matematika”.  Padahal nilai kesenian si anak besar. Tapi kita buta, atau pura-pura buta.

Banyak dari kita secara tidak sadar mengkotak pemikiran anak kita, lewat berbagai pemikiran kita. Tanpa mau mengerti pemikiran anak-anak kita. Dengan tidak memberikan mereka berekspresi, kita terlalu takut dan khawatir padahal sebenarnya  “tidak percaya “. Dengan cara banyak melarang,  dengan alasan bahwa larangan yang kita berikan merupakan ekspersi sayang bagi anak, contoh kecil ketika anak-anak kita bermain tanah, sebagai orangtua kita cenderung melarang “ketika anak ingin mandi hujan, kita  sering bilang, “Adek , kalau hujan hujanan nanti sakit loh, udah di dalem aja nonton Tv”, atau  ketika anak main tanah, “kakak, kalau kakak main tanah di luar nanti kakak cacingan lo, mau nanti minum obat,ih.. ngeri lho kalau di perut kakak ada cacing, udah main di dalem aja ya?”.. Nah apakah ini suatu sikap yang benar?”…

Maka coba kita ubah cara berfikir kita, dalam melihat setiap tingkah pola anak kita yang belum, bisa di tebak. Kebanyskan dari kita para orang tua sering berasumsi, tanpa bertanya dan terlalu terburu menyimpulkan dan tidak sabar untuk melihat kreatifitas anak kita.
Salah satu sikap yang penting bagi kita  agar kreatifitas anak berkembang, berikanlah anak kita kebebasan berfikir . Kadang kita lupa betapa Allah sudah memberikan keistimewaan setiap masing masing anak. Kalau saja kita sebagai orangtua benar benar mau menggali potensi anak. Berikanlah anak kebebasan berfikir sendiri, izinkan ia berekplorasi,  izinkan ia menggali rasa ingin tahunya lebih dalam.  Berikan kepercayaan. Berikan cinta, kepercayaan dan dorongan semangat kepada anak kita.
.
Para Bunda percayalah,setiap anak adalah “Bintang”, anak kita merupakan anak yang istimewa, yang memiliki banyak potensi luar biasa yang sedang menanti untuk di tampilkan. Tugas kita sebagai orangtualah yang  mendorong agar potensi tersebut lahir, atau jangan jangan kita malah membuat potensi anak anak kita mati?”..

Tentang kreatifitas, teringat salah satu film  tentang anak anak “Taare Zameen Par” ,  yang mengajarkan  bahwa tiap anak adalah “Bintang” yang di ciptakan special oleh Allah dengan segala keunikkannya. Temukanlah, sesungguhnya “Bintang” itu berada di dalam rumah kita yaitu anak-anak kita.

Ditulis Oleh Team #7 Bunsay # Sumatera.

Sabtu, 17 Februari 2018

Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini

Hemat Bukan berarti Pelit (Tantangan Hari Kesepuluh)
Kegiatan berhemat bukanlah kegiatan yang mudah, apalagi jika kita sudah terbiasa boros. Berhemat menjadi kegiatan yag sangat sangat menyiksa. Belum lagi kalau lihat orang lain bisa melakukan kegiatan dengan uang, meskipun hal tersebut bukan indikasi kebahagiaan.
Setelah menikah, berhemat harus dilakukan. Bukan saja mengikuti tuntunan agama untuk tidak berlebih-lebihan, namun prioritas berubah dengan sendirinya. Dan fokus kami adalah menabung.
Sebelum menikah saya sudah dapat menabung meskipun dari uang sisa hasil belanja. Jika sempat nabung Alhamdulillah, jika tidak ya tidak mengapa. Jadi setelah menikah karena berhemat, lumayan menyiksalah. Nggak sebebas dan semau sendiri.
Tapi berhemat bukan berarti pelit. Alih-alih ingin menabung lebih banyak, makan dihemat-hemat ala kadarnya. Jajan di luar ditiadakan. Nonton film ditiadakan. Membeli kebutuhan juga dipangkas sana-sini.
Dalam literasi keuangan dari buku-buku tentang mengelola keuangan yang sempat saya baca. Pemborosan terjadi karena ketidaktahuan kita tentang pentingnya mengelola keuangan. Pentingnya menyisakan uang untuk kebutuhan di suatu saat nanti. Namun menyimpan uang bukan berarti juga menimbun harta.
Balik lagi tentang berhemat, banyak yang mengidentikkan berhemat dengan pelit. Padahal hemat bukan berarti pelit.
Dalam KBBI, hemat diartikan sebagai sikap berhati-hati dalam membelanjakan uang dan sebagainya, sedangkan pelit dalam KBBI berarti kikir atau tidak mau memberi. Jadi jelas perbedaan hemat dengan pelit.
Berhemat yang berarti berhati-hati dalam membelanjakan uang jika dikaitkan dengan tulisan sebelumnya berarti membelanjakan sesuatu yang benar-benar dibutuhkan bukan diinginkan. Lantas, ketika kita berazam untuk berhemat apakah tidak boleh makan di luar atau menonton dalam rangka menghibur diri? Jika itu merupakan sebuah kebutuhan mengapa tidak. Kaprahnya jadi salah ketika itu dilakukan setiap saat sedangkan keuangan masih ketar-ketir.
Jadi, tetaplah berhemat. Saya melakukan itu kini. Bijak dalam menggunakan uang demi uang. Tidak boros dan memperhatikan (benar-benar memperhatikan) pikiran saat belanja dan berujar, “Barang ini saya butuhkan atau hanya karena ingin memnuhi hasrat belanja saya?”. Dan, kegiatan berhemat perlahan-lahan tak lagi menyiksa saya.:) 
Dan saya tetap harus banyak belajar tentang pengelolaan keuangan yang baik. Terimaksih suami saya yang telah sabar membimbing saya terkait masalah literasi keuangan ini.
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8 
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari

#CerdasFinansial

Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini

Kegiatan Berinvestasi (Tantangan Hari Kesembilan)
Saya dan suami sepakat bahwa saya tidak mencari kerja dahulu. Sebelum menikah saya bekerja di bidang kesehatan. Seperti yang sudah-sudah, bekerja di pelayanan kesehatan tak kenal waktu. Kadang saya harus bekerja dari malam hingga pagi. Hal itulah yang membuat suami merasa keberatan dan kurang berkenan jika saya kembali bekerja.
Kami berdiskusi cukup alot. Namun kami mencari cara lain agar saya punya kesibukan yang tak sekadar sibuk. Tapi sibuk yang menghasilkan sesuatu, syukur-syukur menghasilkan pemasukan. Hitung-hitung untuk menambah uang tabungan.
Akhirnya kami memutuskan untuk membeli mesin jahit, kebetulan saya suka menjahit. Saya dan suami mencari kursus, Alhamdulillah salah satu orangtua murid tempat suami bekerja membuka kursus jahit secara cuma-cuma.
Selain menambah pemasukan dengan berdagang, kami menyebut kegiatan seperti kursus ini adalah kegiatan berinvestasi untuk menambah pemasukan. Ini adalah modal awal yang secara break even point belum terlihat bahkan masih jauh.
Kegiatan menjahit tak hanya sebatas menjahit. Saya dan suami berencana lebih jauh untuk hal ini, membuat butik adalah salah satu harapan terbesar saya. Untuk itu, suami menyarankan untuk benar-benar kafaah mengulik kegiatan ini. Selain menjahit saya juga ingin ikut kursus merias wajah.
Namun, suami menyarankan untuk mendalami satu-persatu dulu. Kegiatan berinvestasi ini selain saya lakukan juga suami lakukan. Selain fokus ke dunia pendidikan yang sedang ia dalami. Suami juga mencari keterampilan lain agar nanti bisa menjadi penopang dan penambah pemasukan.
Kegiatan-kegiatan ini bukan tanpa maksud. Selain menambah kapasitas diri dan mengisi waktu. Kelak, kegiatan-kegiatan ini akan menjadi sumber pemasukan yang tidak sedikit. Berinvestasi ilmu untuk kehidupan yang lebih baik tentunya. Semangat!
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8 
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial



Mendidik Anak Cerdas Finansial Sejak Dini

Tidak Membeli Barang yang Diinginkan Namun Yang Dibutuhkan (Tantangan Hari Kedelapan).
Lahir dalam keluarga yang tidak mengenal literasi keuangan membuat saya dan suami membenahi diri terutama dalam melawan penyakit satu ini. Yap! Penyakit membeli barang karena keinginan bukan karena kebutuhan.
Pernah saat saya membeli camilan kesukaan yang niatnya hanya membeli satu jenis. Kebetulan suami menunggu di luar. Awalnya memang berniat membeli satu camilan, namun hati dan pikiran rupanya kalap dengan camilan-camilan lain. Saat mendapati camilan yang kubeli “beranak”, suami hanya geleng-geleng kepala.
Lain waktu, saat di pasar. Setelah beberapa barang sudah dibeli untuk kebutuhan sehari-hari, ada satu sayuran yang terlupa yakni tauge. Seperti biasa, suami yang kurang suka keramaian seperti di pasar hanya menunggu di pinggir sedangkan saya masuk untuk membeli tauge. Namun, nyatanya selain tauge, saya juga membeli sayuran lain. Suami yang melihat hanya geleng-geleng, melihat tauge di plastik berkembang biak.
Namun rupanya tak hanya penyakit ini menjangkiti saya, suami saya pun demikian. Terutama dalam membeli buah dan sayur. Jadi suami saya akan berbinar melihat sayuran hijau, wortel yang menjingga, atau buah pisang tanduk yang menguning, rambutan yang memerah, dan lainnya. Suami senang membeli padahal di kulkas buah-buahan atau sayuran masih tersedia. Tak sedikit.
Untuk mengatasi “penyakit” ini, saya dan suami melakukan evaluasi. Karena membeli sesuatu yang diinginkan padahal tidak dibutuhkan lumayan menguras kantong. Kami berdiskusi dengan solusi saling mengingatkan ketika sedang berbelanja. Meskipun kadang kami masih melanggar, namun kami terus mencoba untuk konsisten.
#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8 
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial




Temukan Kebahagiaanmu

Bicara soal bahagia ada aktivitas yang membuat bahagia yang terdiri dari dua hal yakni aktivitas yang disukai dan bisa dilakukan...